Jumat, 20 Mei 2011

Hidup dalam Kehidupan

Aku memanggilmu

Dalam kesunyian membalut malam

Saat purnama bersinar bimbang

Menyambut gumpalan kabut

Yang membawa jiwaku di persimpangan

Kau yang mendahului kelahiranku

Pertanda pertaruhan nyawa bermula

Menghilang setelah erang kesakitan

Membuka gerbang untukku si jabang bayi

Menantang kejamnya udara jaman

Duh, kakang kawah…

Janjimu menjaga langkah

Pada setiap jengkal tanah

Kau yang terlahir sesudah lengking tangisku

Hadirkan desah napas kelegaan sang rahim

Wujudmu terkubur di bawah gundukan tanah

Bertabur wewangian kembang kehidupan

Duh, adhi ari-ari…

Dalam ketiadaanmu membimbing laku

Menuntun tapak-tapak tak berjejak

Melewati perjalanan berlikaliku

Berselimut sunyi sebuah tanya terus mencari

Mengapa sudutsudut jiwaku kosong

Serasa jasadku limbung pandanganku serong

Di mana kau sedulur lanang sedulur wadon

Kedua tangan ini bahkan tak mampu merengkuhmu

Atas nama cinta

Aku hidup di atas kehidupanmu

Hanyalah seonggok debu yang menyatu

akan segera kembali melebur bersamamu

menjadi setetes air dan tanah di keabadian waktu

Bogor, 070511

** DM **

GAJAH KORENGAN DAN DAGELAN

ramai-ramai di televisi

ramai-ramai koran memuat berita terkini

dari ujung dunia yang tak berujung

hingga menembus tangga langit yang tak bertangga

menyorot negeri orang yang sibuk berperang

menyeru perdamaian dari tanah penuh pertikaian

gajah korengan di pelupuk mata tak dipedulikan

kuman jungkir balik di seberang lautan coba ditenangkan

itulah dagelan yang tengah beraksi di sini

rakyat cilik menjerit kejepit suaranya berderit

ditindih harga kebutuhan hidup untuk bertahan hidup

dijejali tontonan keadilan timpang yang semakin memuakkan

ah, itu kan hanya urusan perut!

lebih asik ikut bergelut membuat benang kusut

koalisi, intervensi dan pernak-pernik politisi

lebih keren daripada ngomongin tentang padi!

ramai-ramai, ribut-ribut

rakyat punya mulut?

hanya hembusan kentut

sekejap saja baunya meletup

toh tak mampu membuat mereka beringsut!

Bogor, 020311

**DM**

Minggu, 03 April 2011

GEJOLAK HATI DI ANTARA DUKA MERAPI

Kadang aku ingin menulis seperti sajak manis

Yang pernah kau selipkan pada setumpuk rindu di pintu pagi

Pun ingin kupahat bayanganmu seperti relief abadi di dinding candi

Tapi untuk apa jika hatimu tak lagi di sini

Terbang bersama abu merapi, merepih dan tersapu hujan semalam

Bahkan asa yang sempat terucap

Telah terkubur lahar dingin yang mengendap

Memaksa jiwa mati rasa, mati kata

Di bawah nisan tanpa nama, tanpa taburan bunga

Di antara mayat-mayat hangus dan mengenas

Bagaimana aku harus menepis kenangan itu

Jika gelegar merapi masih melaungkan namamu

Menghujam jantung, menyayat perih

Melengkapi duka para pengungsi

Menatap harap yang tak pasti ...

Bogor, 201110

** DM **



BROKEN HEART

Setumpuk kata cinta
Koyak oleh setetes airmata
Tak akan pernah kusesali
Walau tak ada lagi yang mampu terbaca
Karena di dalam sini
Cinta yang sesungguhnya
Telah terpatri abadi
Meski hanya segores luka
Yang pantas kuterima
Dari kekar tanganmu
Ketika meremas hatiku!

Bogor, 170311
** DM **

PAGIKU MEMANAH RINDU

Pagi yang melahirkan fajar
Di antara harapan rapi berjajar
Selarik rindu kuselipkan pada seikat mawar
Bersama satu keputusan yang tak bisa lagi ditawar

Demi sebuah janji
Meredam semua mimpi
Bagai angin menghalau mendung
Memaksa air hujan terkurung

Aku tak akan mengaduh
Walau darah menyesap peluh
Karena di ujung panah rindu
Bertahun-tahun hatimu menunggu


Bogor, 160311
** DM **

SADJAK TJINTA ABADI

Biarkan koe selesaikan
Oekiran hati di sini
Djangan pernah kau potong
Rangkaian kata jang beloem rampoeng
Tersamboeng sempoerna

Andai esoek sang soerya bersinar elok
Dan akoe tak sempat
Menemoekan seboeah kata
Oentoek melengkapinja

Pernahkah kau batja tentang sadjak cinta?
Moengkin memang hanja dirimoe
Jang haroes menjematkan
Kata terachirja…

Sebab, sadjak itoe
Koetoelis susah pajah
Sebagai oengkapan diri
Sadjak tjinta abadi


Bogor, 140311
** DM **

MOENGKINKAH

Djika boleh akoe meminta
Djangan pedjamkan matamoe
Sebeloem koe menemukan kedjoedjoeran itoe
Moengkinkah?

Koe tjoba menemboes setiap tjelah
Di antara tjahaja jang menjorot
Dari lingkaran hitam nan tadjam
Mengedja satoe demi satoe isjarat jang tersirat

Tahukah bahwa dirimoe bak misteri
Jang bersemboenji dalam lenakoe?
Memberikan bahagia sekaligoes rasa keloe
Saat koe sadari napasmoe memboereo
Menjapoe seloeroeh keindahan semoe

Djika boleh akoe meminta
Djangan pedjamkan matamoe
Sebeloem koe temoekan
Sebaris kata tjinta di sana…

Moengkinkah?


Bogor, 140311
** DM **

Rabu, 30 Maret 2011

GELISAH SEEKOR LEBAH

redup mentari siang ini, hadirkan bayangan masa lalu
tertegun mata di antara wangi melati
seekor lebah terbang gelisah

pun desah angin terdengar resah
hadirkan gumpalan rindu
yang mengurai bersama gerimis satu satu

bukan karena luka kembali terbuka
jika dengung itu membuat sebongkah batu terbelah

namun sebaris puisi yang pernah kau beri
terngiang di sini bagai halilintar yang mengguncang bumi!


Bogor, 12082010
DM

SECARIK TANYA UNTUK EYANG PUTRI

Sepenggal mimpi belum habis kunikmati

Bisikan waktu mengusik tanpa mau tahu

Sebaris lirik bening mengalun sejukkan kalbu

"Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir ..." kuberdiri dan tegakkan telinga

namun tak lagi terdengar syair kelanjutannya ...

urip iku mung sadermo mampir ngombe

wejangan eyang putri kembali terngiang

aku mengangguk lugu saat itu, tanpa membantah,

ataupun bertanya dan menelan mentahmentah

kusapa seekor burung hantu yang tak juga menghentikan nyanyian malamnya

kutitipkan secarik penuh tanya pada eyang di alam sana

bukankah untuk ngombe pun kita harus mencari airnya?

bagaimana jika tak ada lagi mata air untuk anak cucuku kelak?

urip ora mung sadermo ngombe, Eyang ...

cucumu harus berjuang untuk mendapatkan dan mempertahankannya

supaya tetap bisa ngombe lan ora kasatan banyune ...

Bogor, Agustus 2010

** DM **

TANAH MERDEKA

dan langit perlahan menghentikan tangisnya
malam membisu tanpa cahaya
pun jangkrik bersama sahabat sahabatnya tak mampu bersuara
tak ada yang mati di sini ...

Tapi semua tahu, bahwa negeriku sedang berduka atas kata MERDEKA !


Bogor, 17082010
DM

Senin, 28 Maret 2011

THE POWER OF LOVE

senandung hujan pagi ini
hantarkan lirih sebuah puisi
ketukan satu jemari bawa sebongkah luka
memaksaku buka kembali laci kenangan
di mana sebuah nama kutulis dengan tinta darah

setetes rinai dipermainkan daun keladi
berpasrah menanti tamparan angin untuk tentukan takdir
entah ke mana dia akan jatuh sebelum sirna, tersesap atau menguap
berpegang pada keyakinan akan tempat mulia menyambut kematiannya

di sini, sepotong hati dengan lukisan tapak sembilu
mencoba menampik asap dupa aroma cintamu
yang pernah kau tanamkan begitu dalam
hingga waktu tetap tak mampu mencabutnya

sementara akar-akarnya terus menjerat kuat hingga ke ujung lahat

Bogor, feb2010
DM

KETIKA KAU MEMANDANG DAN MENGAGUMIKU

[sajak seekor Merak]

ketika kau memandang dan mengagumi keindahanku,
adakah kau pernah membayangkan andai aku berdiri di hadapanmu
tanpa keelokan bulu-bulu ekorku yang selama ini kau elu-elukan?

alahaiii ... aku sadar bahwa bulu-bulu ini akan segera kutinggalkan
tubuhku akan menyatu dengan tanah dan penghuninya
hancur perlahan sebagai santapan cacing dan kerabatnya
semua decak kagummu tak akan pernah kubawa serta
dan di lain waktu kita akan berjumpa di padang yang sama
tanpa kau kenal lagi siapa aku
karena kita berujud sama

dengan baju yang sama pula ...


Bogor, feb2010
** DM **

Hello...Hello...Hello...

Mandi hujan di antara hijau dedaun teh
Mata terpejam menikmati kesejukan rinai yang jatuh satu satu dari kelopak indahku
Lambaian tangan para perempuan pemetik daun teh kusambut dengan rekah senyuman
Berlari kakiku di antara pematang yang memberiku jalan menyatu dengan alam

Ayun ayun hatiku bernyanyi singkirkan kisah pilu
Basah basah tubuhku redam emosi yang ingin kuasai diri
Senandung bukit berbunga cinta mengalun di setiap tangkai berimbun hijau
Simphoni kehidupan kurengkuh memutar ujung jari mengajak berdansa dansi

Amboi … aku terkecoh oleh gelak bangau penghuni kaki bukit
Mereka mengajariku lenggok irama rumpun ilalang liar
Aku termangu diterpa kebimbangan
Ternyata aku buta orkestra fauna

Hellooo … hellooo … helloo …
Ajari aku menyatu dengan tarianmu, wahai penghuni nirwana!


Bogor,230210
** DM **

SEBUAH PONDOK BAMBU DAN SERPIHAN HATIMU YANG TERCECER

sebuah pondok bambu di tengah hutan sawit, bersahaja dengan derit saat menyapa kedatanganku.
mempersilahkan aku duduk, menikmati setiap celah yang tertembus oleh sinar surya menjelang senja.
semilir angin mencolek anak rambutku yang malu-malu tersibak bagai gadis desa yang tersipu oleh rayuan cinta para perjaka.

di sini, aku menemukan serpihan hatimu yang tercecer belasan tahun lalu. dan sebuah kekuatan Illahi menuntunku untuk memungutinya, kembali merangkaikan menjadi bait-bait sajak dalam bingkai berhias do'a, sejenak kulihat senyummu merekah indah di dalamnya.



Bogor, feb2010
** DM **

TERIMAKSIH

cinta kau tebarkan lewat rekah bibir penuh pesona
hatimu seputih pualam saat bicara atas nama nurani
genggam hangat jemarimu memberi rasa nyaman sebuah keresahan
dengan nama Tuhan kau berikan kesejukan bagai angin kiriman surga

dan amarah siapa yang kau hantarkan di depan rumahku pagi ini
aku bahkan tak melihat keindahan taman melati di kesucian mega berkelopak itu
sekejap mimpi indah tentang peri bersayap biru merepih mengotori lantai tempatku berpijak
tamparanmu menyambutku saat dengan suka cita kubuka pintu diketukan pertama kehadiranmu

terimakasih, kau sadarkan bahwa realita kejam adanya
surga hanya ada di alam khayal manusia, pun tak ada di alam maya



Indonesia, 220210
** DM **

MUSIM APA DI NEGERIKU SAAT INI?

aku tak pernah tahu musim apa yang dialami negeriku saat ini
banyak katak terbirit-birit lari menghindari hujan yang mengguyur bumi
mereka mati siasia setelah kerongkongan kerontangnya lelah meminta sedekah
pepohonan di tepi jalan yang semakin meranggas tak kuasa menampung air tercurah
daun daun gugur, tak ada aroma wangi kembang menebar di taman, semua kuncup layu sebelum bermekaran

dari sudut jendela di sisi yang berbeda
sinar matahari dengan energi panas tertinggi memanggang semua yang terlewati
sebuah kota tergenang air hingga menjadi telaga
perut perut buncit di balik dinding-dinding kumuh menanti vonis Tuhannya
mukjizat datangnya obat, atau berpasrah pada jemputan maut sebelum sempat bertobat

musim apa di negeriku hari ini
aku di sini, masih berdiam ubi
menyaksikan orang-orang besar sibuk mencari alibi!


Purworejo, 130110
** DM **

CINTA DARI KOTA TUA


kau menyapa di ujung jenuhku
membawa cerita tentang kota tua
di mana ariari kita dikubur pada tanah yang sama
serta aroma masakan ibuku dan ibumu, bahkan jerit lokomotif
yang mengepulkan asap berwarna serupa

saat gelak menyibak jejak nostalgia
kisah kita yang mengepompong kini terbuka
menjelma harubiru kupukupu bersayap pelangi
menyusuri sepanjang jembatan memori yang terlewati

mungkin aku bukan perawanmu yang menimbang pinangan
dengan janji mahkota kesucian
aku hanya ingin terlahir dan kembali pada fitrahku
untuk melengkapi tulang rusukmu ...

* seperti pintamu yang mengajakku menikmati masa tua di kota legenda dengan Andong istimewa yang kita sewa untuk mengenang perjalanan cinta penuh tawa dan airmata ...


Purworejo, 110110
** DM **

TANAH ITU MASIH MERAH

hujan sore ini menebarkan wangi taburan melati kesukaanmu
dan kelopak-kelopak mawar menjadi segar semula adanya
di atas gundukan basah tanah terbaring jasadmu kini
sebait do'a memohon lapang jalan yang akan kau lalui

masih tak percaya akan kepergianmu, ibu
masih juga belum rampung kuungkap kerinduanku
masih tak hendak mekar sekuntum anggrek bulan yang kau tanam
pun masih merah tanah di mana kau bersemayam,

;saat sungai airmata kembali membanjir tanpa kendali

tembang campursari tetap mengalun merdu dalam kamarmu
terselip nasehat dan harapanmu pada setiap baitnya
tergugu aku dalam kelam waktu

;belum cukup kunikmati senyum teduh itu

ibu, biarkan kubawa beban di pundakmu
akan kugantikan pedih luka di hatimu
istirahatlah dalam damai, tak perlu kau ragu
karena indah surga Tuhan telah menantimu

tanah itu masih merah, saat kesucian mega mengurai tetesan rindu satu persatu ...


Purworejo,251209
** DM **

SETANGKAI CINTA

hari ini aku temukan kesucian mega di matamu
ingin rasanya kutulis sajak-sajak gelisahku di sana
atau membuka mimpi-mimpi yang tak sempat kunikmati
sekali ini, ijinkan kubersandar bersama lelahku dalam teduhnya tatapanmu

tak harus kau beri aku sekeranjang bunga
jika jemarimu tak mampu merangkainya
setangkai cinta yang kau tanam di sini
akan tumbuh menjadi taman yang mengabadi

deras hujan yang ku utus menghantar lipatan kelamku
pada arus sungai dengan tertawa membawanya ke muara
menuju alunan ombak yang menggulungnya tanpa jeda hingga sirna
ku ingin hadirkan senyum tanpa hiasan luka
saat menyambut kecup lembut bibirmu
di sudut kelopak hatiku yang kembali terbuka



Purworejo, 100110
** DM **
Berhubung blog saya yang lama yaitu "dm poetry" tidak bisa saya buka entah kenapa saya sendiri tidak tahu sebabnya, terpaksa saya membuat blog baru untuk lebih mengukuhkan puisi-puisi saya.
Terimakasih jika masih ada yang berkenan untuk mampir, syukur-syukur mau jadi follower ...